15/09/10

KH Nuril Arifin alias Gus Nuril: Iklan Mbah Hasyim, PKS Lebih Cerdas dari PKB by : Bambang Sulistomo

gus nuril,
sewaktu saya menghadiri acara pernikahan puteri-nya kh mustofa-bisri
di-rembang,
saya banyak bertemu para ulama besar nu, diruangan akad nikah,
karena kebetulan ada gus dur, maka kesempatan itu saya pergunakan dong,
saya ngomong ke gus-dur, mengenai keprihatian saya melihat banyak ulama nu
terjun dibidang politik praktis, melalui partai politik yang berbeda-beda,
apa hal tersebut tidak mengurangi perhatian para kyai pada ummatnya,
jawab menjawab rupanya didengarkan oleh para kyai lainnya,
gus dur pun menjelaskan upayanya untuk "menjaring" kyai kampoeng,
sampai gus dur cerita tentang "resolusi jihad" para ulama besar, untuk
melawan penjajah belanda,
yang mau masuk lagi ke surabaya, sebelum november 45..
memang ternyata pks lebih jeli melihat sejarah nu yang besar itu,
seharusnya warga nu juga harus bisa melihat "linangan air-mata" eyang hasyim
asy'ari itu,
saat almarhum "melihat" kondisi para ulama dan ummat nahdliyin saat ini,
mungkin kalau almarhum bisa menyampaikan sesuatu,
tentu beliau akan berkata "enggak usah tawwassul padaku, sebelum kalian
bersatu"
salambambangsulistomoyang prihatin. 

suber:

 
2008/11/3 Wido Q Supraha <supraha@indo...>

Gus Nuril Anggap Rencana Umroh Boediono Telat


Sabtu, 20 Juni 2009 - 12:59 wib
JAKARTA - Pimpinan Ponpes Soko Tunggal Abdurahman Wahid, Gus Nuril Arifin memandang ibadah umroh yang hendak dilakukan oleh cawapres Boediono sebagai sesuatu tindakan yang telat.

Dia pun menyesalkan pernyataan capres SBY yang pernah melontarkan bahwa pasangannya, Boediono merupakan penganut muslim yang taat tidak sesuai dengan hakikinya, karena di beberapa kesempatan Boediono jarang melakukan ibadah ke tanah suci.

"Boediono itu lucu, Saya memandang terlambat kenapa tidak kemaren-kemaren saja dilaksanakan umroh, ini tentu melahirkan kecurigaan alias berprasangka buruk dan tentunya itu dosa. Jadi, Kalau dia orang Islam tentu cita-cita yang sederhana diutamakan ke Tanah Suci, daripada pergi ke luar negeri," ujarnya usai acara Kongkow Bareng Gus Dur, Jalan Utan Kayu, Jakarta, Sabtu (20/06/2009).

Cawapres Boediono, sambungnya, hanya mendahulukan pendongkrakan citra diri penampilan dengan tujuan dan maksud tertentu di antaranya memanfaatkan momentum di tengah masa kampanye Pilpres 2009.

"Tentu disayangkan, politik itu tidak bisa disatukan dengan agama dan tidak ada hubungannya, justru akan menimbulkan dosa bagi orang lain," ujar Gus Nuril.

Sebab, kata dia, akan menimbulkan prasangka buruk bagi rakyat, padahal sesungguhnya ajakan umroh itu untuk membangun hubungan pribadi dengan khalik bukan sebagai nuansa politik umroh. (ram)
Sumber: http://pemilu.okezone.com/read/2009/06/20/268/231222/gus-nuril-anggap-rencana-umroh-boediono-telat

14/09/10

Pesantren Multi Agama SOKO TUNGGAL, Semarang , Jawatengah - Mengusung Semangat Bhineka Tunggal Ika


Ketika Gus Dur, Presiden RI ke 4 mau dilengserkan, nama KH Dr.Nuril Arifin, yang akrab dipanggil Gus Nuril – merupakan  salah satu Pembela terdepan , dengan memimpin sekitar 250ribu PASUKAN BERANI MATI yang siap mengamankan Istana Negara – Jakarta.
Hanya karena kebesaran hati Gus Dur, yang tidak mengijinkan Pasukan Gus Nuril  bertindak anarki, maka tidak terjadi pertumpahan darah disekltar MONAS, saat akhirnya Gus Dur benar-benar lengser, dan langsung diterbangkan ke Amerika untuk berobat.
Gus Nuril tidak mendendam pada para Tokoh Nasional yang melengserkan Gus Dur, namun Media sempat mengekspose – seolah ada ketegangan antara Gus Nuril dan Amin Rais, salah satu  Tokoh dibalik Lengsernya Gus Dur.
Hingga ketika Gus Nuril tetap menjalankan aktivitasnya –Memimpin  Pondok Pesantren SOKO TUNGGAL, Amin Rais menyempatkan datang ke PONPES Multi Agama di Semarang Timur itu, untuk menunjukkan  kepada masyarakat luas, bahwa  diantara dua Tokoh kontroversial itu telah terjadi Rekonsiliasi.
Datang ke Komplek Pesantren Soko Tunggal memang mengasyikkan. Walaupun namanya Pondok Pesantren, ternyata  Santrinya terdiri dari beberapa Macam Pemeluk Agama yang berbeda-beda. Ada Islam ,Budha, Kristen, Kong Hu Cu, Hindu, bahkan dari beberapa Aliran Kepercayaan juga banyak.
Para Santrinya juga datang dari berbagai Etnis,  ada Jawa, Manado, Cina, Sunda, dan masih banyak yang lain. Tentu kondisi ini selaras dengan ajaran Gus Dur yang Pluralis itu, dan Gus Nuril adalah salah satu Aplikatornya, dalam mengejawantahkan Semangat Bhineka Tunggal Ika – Demi keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.